Langsung ke konten utama

Menu Nigi

Enam Buku Keren yang Kutemukan di Tahun 2019 (Untuk Memenuhi Tagar #bukuterbaik)


Tahun 2019 ini semangat membacaku jauh lebih banyak daripada tahun sebelumnya--dan hanya itu yang aku punya. Rasa semangat itu membawaku bertualang dari cerita ke cerita, dari bacaan ke bacaan. Jatuh cinta dan patah hati tentu saja dua teman yang senantiasa penyertaiku dalam petualangan ini.
Seperti tahun lalu, aku dan temanku membuat proyek menulis bertagar #bukuterbaikku di awal tahun, yaitu tulisan mengenai buku terbaik yang telah kubaca di tahun 2019 ini. Jika tahun lalu aku sempat galau memilih buku yang akan menjadi #bukuterbaikku, karena--entahlah siapa yang membuat aturan--harus satu buku saja yang dipilih, maka tahun ini aku akan melanggar aturan itu. Rasanya aku tidak bisa memilih hanya satu saja karena setiap buku memiliki ceritanya sendiri, dan tentu saja menyajikan pengalaman yang berbeda untukku. Tahun ini kupilih 6 #bukuterbaik dengan alasan yang berbeda-beda. Jika menurutmu jumlah ini terlalu sedikit atau terlalu banyak, maka kembali kepada aturan di blog ini, "terserah saya, dan terserah anda".
Urutan buku yang kutulis di sini dibuat berdasarkan waktu membacanya. Jadi pada hakikatnya semua adalah #bukuterbaik nomor 1.

1. 24 Jam Bersama Gaspar karya Sabda Armandio
Awalnya aku sama sekali--bahkan sangat--tidak tertarik dengan novel ini. Pertama karena novel ini adalah cerita detektif. Aku bukan orang yang senang dengan cerita detektif karena itu membuatku lelah. Kedua melihat seorang lelaki berjaket dengan gambar naga sedang menaiki motor membuat rasa tidak tertarikku semakin besar. Aku merasa akan sangat lelah mengikuti lelaki bermotor itu.
Ternyata semua dugaanku salah total. Aku justru diajak merampok bank dengan cara-cara yang menyenangkan. Semakin aku membaca, semakin aku penasaran. Gaspar adalah lelaki yang tidak bisa--atau tidak ingin--dibaca pikirannya. Sejak awal aku dibuat fokus terhadap barang yang akan dirampok, namun di akhir ternyata bukan itu inti dari perampokan ini. Hal penting lainnya yang kudapat adalah bahwa tidak semua hal yang dilakukan dengan tujuan "demi kebaikan", adalah sebuah kebaikan, serta definisi kebaikan dan kejahatan itu sendiri ternyata begitu abu-abu.
 
Goodreads.com



2. Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan

Cerita diawali dengan seorang perempuan yang bangkit dari kubur setelah 21 tahun kematiannya. Kemudian segalanya kutemukan; sejarah, fantasi, filsafat, kisah cinta, horor, feminis, serta petualangan. Aku juga menemukan kejadian-kejadian besar yang ada di dunia nyata, tapi dibalut dengan cerita fiksi yang tidak perlu dipercaya sebagai sejarah. Hal unik yang kutemukan dari cerita-cerita Eka Kurniawan adalah semua tokoh dibuat seperti tokoh utama, latar belakang setiap tokoh dibuat sangat jelas serta saling memengaruhi satu sama lain. Meskipun hal itu membuat cerita jadi terkesan melompat-lompat dan membingungkan, tapi kalau sudah menemukan pola dari lompatan cerita itu, keseruannya akan terasa.
Goodreads.com

 
3. Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom
Lagi-lagi cerita tentang petualangan. Alih-alih bercerita tentang Raden Mandasia yang punya kebiasaan anehnya mencuri daging sapi dari sapi yang masih hidup, buku ini justru lebih banyak bercerita tentang Sungu Lembu. Cerita tentang perjalanan untuk membalas dendam. Namun alih-alih membalas dendam, banyak hal lain yang didapat Sungu Lembu, bahkan tanpa dia sadari, kebencian itu perlahan menghilang tanpa disadarinya. Uniknya, perjalanan Sungu Lembu dan Raden Mandasia ini seperti perjalanan dari satu dongeng ke dongeng lainnya. Aku menemukan seorang utusan Tuhan yang meninggalkan umatnya lalu akhirnya ditelan ikan paus, juga seorang pria tua tukang kayu yang kehilangan boneka kayunya, wabah kematian hitam, bahkan cerita Oedipus Komplex lokal yang dimiliki masyarakat Jawa.
Goodreads.com


4. Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway
Buku terjemahan satu-satunya yang masuk kategori #bukuterbaikku. Meskipun aku sempat terganggu dengan terjemahannya yang menurutku berantakan, sampai-sampai aku harus membaca dua buku dengan penerjemah yang berbeda untuk dapat memahami dan menikmati buku ini.
Kisah pelayaran seorang lelaki tua bernama Santiago selama 84 hari sendirian di tengah laut. Pelayaran Santiago adalah pelayaran untuk mengobrol dengan diri sendiri. Memahami dan mengingat kembali semua yang telah dimiliki dan yang tidak dimiliki, memaknai cinta dan persahabatan dengan cara yang unik, dan terakhir menerima dengan lapang kenyataan yang akhirnya datang, meski tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Terakhir jangan lupakan Manolin, bocah laki-laki yang mengajarkan kesetiaan.
Goodreads.com


5. O karya Eka Kurniawan
Ketika temanku sangat tidak menyukai tulisan Eka Kurniawan, justru aku sangat menikmatinya. Hahaha.
Buku ini merupakan cerita fabel, sebab tokohnya tidak hanya manusia, tetapi juga binatang. Seperti biasa, semua tokoh memiliki cerita masing-masing dengan sangat jelas dan saling berkaitan. Meskipun lagi-lagi itu membuat gaya penceritaannya melompat-lompat dan membingungkan.
Buku ini adalah kumpulan kisah sedih para tokohnya. Cinta dan kebahagiaan barangkali memang bukan hal yang selalu berdampingan. Di sini aku menemukan cinta yang tidak membawa pada kebahagiaan sekaligus cinta yang suci dan tulus para tokohnya. Bukan hanya monyet bernama O, tapi semua tokoh dalam novel ini.
Membaca novel ini aku merasa sedih, sekaligus puas.
Goodreads.com


6. Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Terakhir adalah (bukan) novel anak-anak dengan tokoh anak-anak. Menyenangkan sekali rasanya membaca buku dengan tokoh anak-anak, padahal sejatinya novel ini bukan untuk anak-anak. Tapi untuk orang dewasa, terutama orang tua menurutku. Cerita bertema keluarga, namun tidak keluarga yang bahagia. Ada kesedihan yang dikemas dengan kisah yang lucu di dalamnya. Kepolosan anak-anak terkadang membuat kita tertawa, namun sering juga membuat kita merenung. Kutemukan kenyataan bahwa keluarga yang berantakan atau bermasalah akan berpengaruh terhadap kepercayaan anak terhadap kedua orang tuanya. Pandangan tentang orang jahat dan orang baik, serta cara anak-anak menyikapi kesedihan dan ketakutannya. Cukup aneh ketika kutemukan anak yang lebih banyak membicarakan kehidupan setelah kematian, rasanya terlalu jauh untuk ukuran anak-anak. Tapi kita tidak pernah tahu yang dirasakan oleh anak-anak yang perkembangannya terganggu oleh keluarga yang berantakan dan kehilangan rasa nyaman di dalam keluarganya selama kita tidak merasakannya, bukan?
Membaca ini, aku merasa sedih tapi tidak berhenti dibuat tertawa.
Goodreads.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

10+1 Catatan (Tidak Penting) Membaca 2019

1. Definisi Membaca Definisi membaca menurutkutku adalah menamatkan satu buku. Jika ada buku yang kubaca tapi tidak sampai selesai atau hanya bagian-bagian tertentu saja, berarti buku tersebut tidak masuk ke dalam daftar bacaanku. Entahlah, ada kepuasan tersendiri ketika aku berhasil menamatkan satu buku, dan perasaan itu yang membuatku ingin membaca buku lainnya. 2. Alasanku Mencatat Buku yang Sudah Kubaca Semangat membaca pasti tidak pernah sama setiap waktunya, terkadang bersemangat sekali, tapi ada juga waktu malas membaca. Perasaan jenuh dan bosan. Tentu saja hal itu juga selalu terjadi padaku. Ada banyak cara untuk menjaga semangat membaca. Salah satu cara yang kulakukan adalah mencatat judul buku yang sudah kubaca. Rasanya menyenangkan saja ketika catatan itu semakin banyak. Selain itu, catatan itu juga berguna untukku--yang pelupa ini--mengingat kembali isi dari buku-buku yang telah kubaca. Kegiatan ini sudah kulakukan sejak zaman sekolah, tapi baru konsisten kulakukan...

Klaus: Kebaikan Tanpa Pamrih Selalu Menular Kepada yang Lain

Klaus 2019 Poin penting yang pertama kali kutemukan dari film ini adalah masalah utama tidak berhubungan sama sekali dengan natal. Tapi masalah masa depan seorang anak direktur bernama Jesper yang pemalas dan mengandalkan warisan. Terlihat rumit untuk dipikirkan anak-anak. Juga suasana yang terlihat lebih gelap dan muram, alih-alih menggambarkan suasana yang ceria dan penuh warna. Tapi itu adalah titik balik segalanya bermula. Jesper harus menjadi seorang tukang pos di pulau terpencil bernama Smeerensburg untuk mempertahankan warisan dan segala kekayaannya. Namun ternyata tidak semudah itu mengumpulkan surat di dearah dengan pertikaian dan kebencian yang sudah menjadi tradisi. Sampai sini memang masih terlihat tidak ada hubungannya dengan pria tua berjanggut tebal dengan baju merah serta kereta rusa yang selalu membawa hadiah di malam natal. Klaus, karakter yang menjadi judul film ini baru muncul setelah Jasper hampir menyerah. Itu pun tidak dengan keajaiban serta pakaian ...